Selasa, 31 Oktober 2017

MISI KOMUNITAS TRITUNGGAL MAHAKUDUS



MISI KOMUNITAS TRITUNGGAL MAHAKUDUS

KTM telah menerima karunia-karunia Roh Kudus, Ia juga diberi karunia untuk mengalami sendiri “pengenalan akan Yesus Kristus yang mengatasi segala sesuatu” (Flp 3:8), serta “mengalami bersama para kudus betapa dalamnya, betapa lebarnya, betapa tingginya cinta-kasih Allah” (Ef 3:18-19). Karena telah mengalami kasih Allah yang telah mengasihinya lebih dahulu, ia dijadikan mampu untuk mengasihi Allah: “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19).

Setelah mengalami sendiri kasih Allah yang melampaui segala pengertian dan yang memperbaharui segala sesuatu, KTM dipanggil untuk mewartakan kasih Allah yang menyelamatkan dalam Yesus itu kepada semua manusia. Hal itu dilakukannya dalam kuasa Roh Kudus yang telah diberikan Allah kepadanya.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas kiranya Komunitas Tritunggal Mahakudus memiliki Visi dan Misi yang sama dengan CSE dan Putri Karmel, hanya saja cara penghayatan dan cara pelaksanaannya berbeda, sesuai dengan sikon masing-masing. Karena itu Visi dan Misi tersebut dapat dirumuskan secara singkat sebagai berikut:

Dalam kuasa Roh Kudus
mengalami dan menghayati sendiri
kehadiran Allah yang penuh kasih dan menyelamatkan,
sampai pada persatuan cinta-kasih,
serta membawa orang lain kepada pengalaman yang sama.

Rumusan tersebut dapat diterangkan lebih lanjut sebagai berikut:
1.      Dalam kuasa Roh Kudus: Roh Kudus merupakan dasar dan sumber segala sesuatu, baik untuk mengalami dan menghayati kehadiran dan cinta-kasih Allah, maupun untuk membawa orang lain kepada pengalaman yang sama. Hal itu dilaksanakan lewat kuasa Roh kudus yang disalurkan dan dinyatakan lewat pelbagai macam kasih karunia, sakramen-sakramen dan karismata.
2.      Mengalami dan menghayati sendiri: soalnya di sini bukan hanya untuk mengetahui saja, melainkan harus sampai pada pengalaman. Walaupun hal itu tetap terjadi dalam iman, namun harus sungguh-sungguh merupakan suatu pengalaman yang nyata, yang menjadi sumber penghayatan. Kita harus lebih dahulu mengalami sendiri, sebelum kita dapat memberikan kesaksian tentang hal itu.
3.      Kehadiran Allah: Kehadiran  ini dialami sebagai suatu kehadiran yang penuh kasih, yang menolong, melindungi, memelihara, yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Karena itu kita dapat selalu mengharapkan dan mengandalkan pertolonganNya.
4.      Persatuan cinta-kasih: Kehadiran Allah yang menyelamatkan itu perlahan-lahan tetapi pasti, asal tidak ada hambatan, akan mengubah dan memperbaharui kita, mulai dari lubuk terdalam kita, sampai pada seluruh lapisan ada kita. Oleh sentuhan-sentuhan rahmatNya kita diubah dan diilahikan sedemikian rupa, sehingga kita benar-benar menyerupai Allah, seperti kayu yang dimasukkan ke dalam api akhirnya menjadi api sendiri. Oleh transformasi itu seluruh ada dan kegiatan kita diilahikan, sehingga akhirnya segala faal dan perbuatan kita memperoleh nilai ilahi. Satu orang yang sampai pada persatuan cinta-kasih itu lebih berharga dan lebih berguna bagi dunia dan Gereja daripada ribuan, bahkan jutaan lainnya, yang tidak sampai pada tahap tersebut. Inilah yang menjadi cita-cita Karmel sejak semula dan yang diharapkan juga menjadi cita-cita kita.
5.      Membawa orang lain pada pengalaman yang sama: Setelah kita sendiri mengalami kehadiran Allah yang menyelamatkan tersebut, walaupun belum sampai pada puncaknya, kita juga mau membawa orang lain kepada pengalaman yang sama, supaya merekapun boleh mengalami keselamatan yang leimpah yang datang dari Allah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar