MISI KOMUNITAS TRITUNGGAL MAHAKUDUS
KTM telah menerima
karunia-karunia Roh Kudus, Ia juga diberi karunia untuk mengalami sendiri
“pengenalan akan Yesus Kristus yang mengatasi segala sesuatu” (Flp 3:8), serta
“mengalami bersama para kudus betapa dalamnya, betapa lebarnya, betapa
tingginya cinta-kasih Allah” (Ef 3:18-19). Karena telah mengalami kasih Allah
yang telah mengasihinya lebih dahulu, ia dijadikan mampu untuk mengasihi Allah:
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19).
Setelah mengalami sendiri
kasih Allah yang melampaui segala pengertian dan yang memperbaharui segala
sesuatu, KTM dipanggil untuk mewartakan kasih Allah yang menyelamatkan dalam
Yesus itu kepada semua manusia. Hal itu dilakukannya dalam kuasa Roh Kudus yang
telah diberikan Allah kepadanya.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas kiranya
Komunitas Tritunggal Mahakudus memiliki Visi dan Misi yang sama dengan CSE dan
Putri Karmel, hanya saja cara penghayatan dan cara pelaksanaannya berbeda,
sesuai dengan sikon masing-masing. Karena itu Visi dan Misi tersebut dapat
dirumuskan secara singkat sebagai berikut:
Dalam kuasa Roh Kudus
mengalami dan menghayati
sendiri
kehadiran Allah yang penuh
kasih dan menyelamatkan,
sampai pada persatuan
cinta-kasih,
serta membawa orang lain
kepada pengalaman yang sama.
Rumusan
tersebut dapat diterangkan lebih lanjut sebagai berikut:
1. Dalam kuasa Roh Kudus: Roh Kudus merupakan dasar
dan sumber segala sesuatu, baik untuk mengalami dan menghayati kehadiran dan
cinta-kasih Allah, maupun untuk membawa orang lain kepada pengalaman yang sama.
Hal itu dilaksanakan lewat kuasa Roh kudus yang disalurkan dan dinyatakan lewat
pelbagai macam kasih karunia, sakramen-sakramen dan karismata.
2. Mengalami dan menghayati sendiri: soalnya di
sini bukan hanya untuk mengetahui saja, melainkan harus sampai pada pengalaman.
Walaupun hal itu tetap terjadi dalam iman, namun harus sungguh-sungguh
merupakan suatu pengalaman yang nyata, yang menjadi sumber penghayatan. Kita
harus lebih dahulu mengalami sendiri, sebelum kita dapat memberikan kesaksian
tentang hal itu.
3. Kehadiran Allah: Kehadiran ini dialami sebagai suatu kehadiran yang
penuh kasih, yang menolong, melindungi, memelihara, yang menyembuhkan dan
menyelamatkan. Karena itu kita dapat selalu mengharapkan dan mengandalkan
pertolonganNya.
4. Persatuan cinta-kasih: Kehadiran Allah yang
menyelamatkan itu perlahan-lahan tetapi pasti, asal tidak ada hambatan, akan
mengubah dan memperbaharui kita, mulai dari lubuk terdalam kita, sampai pada
seluruh lapisan ada kita. Oleh sentuhan-sentuhan rahmatNya kita diubah dan
diilahikan sedemikian rupa, sehingga kita benar-benar menyerupai Allah, seperti
kayu yang dimasukkan ke dalam api akhirnya menjadi api sendiri. Oleh
transformasi itu seluruh ada dan kegiatan kita diilahikan, sehingga akhirnya
segala faal dan perbuatan kita memperoleh nilai ilahi. Satu orang yang sampai
pada persatuan cinta-kasih itu lebih berharga dan lebih berguna bagi dunia dan
Gereja daripada ribuan, bahkan jutaan lainnya, yang tidak sampai pada tahap
tersebut. Inilah yang menjadi cita-cita Karmel sejak semula dan yang diharapkan
juga menjadi cita-cita kita.
5. Membawa orang lain pada
pengalaman yang sama: Setelah kita sendiri mengalami kehadiran Allah yang menyelamatkan
tersebut, walaupun belum sampai pada puncaknya, kita juga mau membawa orang
lain kepada pengalaman yang sama, supaya merekapun boleh mengalami keselamatan
yang leimpah yang datang dari Allah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar